khotbah read 8 april 2016

Ringkasan Khotbah Jumat
Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad, Khalifatul
Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz pada 08 April
2016 di Baitul Futuh, London
أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه .
أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.
[بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين *
إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب
علََيهْم ولَا الضا لِّين ]، آمين.

Pada suatu kesempatan Hadhrat Mushlih Mau’ud ra pernah menerangkan bahwa kita seharusnya terus-menerus melakukan refleksi diri secara teratur apakah segala tindakan dan keputusan-keputusan kita sudah sesuai dengan Al Quran dan Hadis ataukah tidak. Sedangkan mengenai perkara-perkara yang tidak kita temukan
resolusi (penjelasan penyelesaian)nya di dalam Al-Qur’an dan Hadits, kita harus memakai referensi Sunnah (amal perbuatan tetap) dan keputusan para Ulama Salaf (terdahulu, masa awal Islam). Hadhrat Masih Mau’ud as pernah ditanya mengenai hal ini, “Bagaimana seharusnya kami menyelesaikan persoalan-persoalan kami dan dari mana kami mengambil pegangan dan petunjuk?”

Beliau as menjawab, “Manhaj (pedoman, jalan) saya ialah yang utama dan pertama-tama dilakukan adalah mengikuti petunjuk Al Quran. Dan jika petunjuk mengenai perkara tertentu tidak dapat ditemukan di dalam Al Quran, maka kita harus melihat ke Hadis. Dan

jika perkara tersebut juga tidak ditemukan di sana, maka keputusan yang diambil untuk perkara tersebut harus didasarkan pada kesimpulan dan keputusan dari para ulama terdahulu. Harus juga jelas bahwa Hadhrat Masih Mau’d as telah mengatakan Sunnah derajatnya lebih diutamakan dibanding Hadis. Perkara-perkara yang terbukti dari Sunnah itu harus diamalkan, dan setelahnya Hadits. Sunnah adalah amalan-amalan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw yang mana para Sahabat beliau belajar dari beliau, dan pada gilirannya dipelajari oleh para Tabi’un (Kaum Muslim yang lahir setelah Rasulullah saw wafat namun sezaman dengan para Sahabat) dan kemudian oleh para Tabi’ut Tabi’un [generasi Muslim setelah para Tabi’un tapi pernah dididik oleh Tabi’un]. Dan, setelahnya, umat beramal atasnya.”

Pendeknya, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengarahkan perhatian kita agar kita harus sadar dan berhati-hati untuk hanya mengamalkan apa yang diperbolehkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya saw. Patut diperhatikan bahwa terkadang ada orang yang begitu terobsesi (tampak terbawa perasaan secara berlebihan) dengan kesalehan sehingga mendorong diri mereka sendiri keluar batas, membawa diri mereka kedalam musibah dan menganiaya diri sendiri. Sedangkan ada orang-orang, bahkan mayoritas, memandang sepintas lalu perintah-perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya saw dan hanya melaksanakan dengan sekedarnya saja, bukan yang semestinya. Sikap dari kedua jenis orang orang tersebut adalah dua kutub yang ekstrim. Mereka telah keluar dari hukum Allah Ta’ala dan rasul-Nya.

Ada sebuah contoh tentang orang yang terbawa semangat dan perasaan berlebihan untuk kebaikan. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengemukakan contoh seorang wanita yang ingin melakukan sesuatu hal atas nama kebaikan dengan cara yang sebenarnya tidak sah dan tidak diperbolehkan, sebenarnya itu bukan kebaikan karena Allah Ta’ala dan Rasul-Nya saw tidak mengizinkannya. Di dalam kisah ini ada pelajaran bagi mereka yang terlalu mementingkan mimpi-mimpi mereka namun tidak memiliki keadaan agung keruhanian yang mana setiap mimpi mereka itu benar atau mempunyai arti tertentu. Hadhrat Mushlih Mau’ud as berkata, “Ada seorang wanita yang mempunyai masalah dalam kesehatan mental dan pemikiran mengunjungi rumah saya dan mengatakan, ‘Saya telah melihat Hadhrat Masih Mau’d as dalam mimpi saya yang mengatakan kepada saya, “Jika engkau berpuasa selama 6 bulan terus menerus, maka Khalifatul Masih akan dapat sehat kembali.”’ (saat itu Hadhrat Mushlih Mau’ud ra sedang sakit) Wanita itu berkata, ‘Setiap ulama yang saya temui untuk berkonsultasi semua mengatakan amalan demikian tidak benar/dilarang. Mian Bashir Ahmad Sahib telah menasihati saya untuk berpuasa tiap hari Senin dan hari Kamis. Saya telah bermimpi lagi dan dalam mimpi tersebut Hadhrat Masih Mau’ud as bertanya kepada saya kenapa saya belum memulai untuk berpuasa secara terus menerus selama 6 bulan!’” Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Mustahil mimpi engkau bertentangan dengan ilham-ilham Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau as sendiri mengatakan, ‘Jika ada ilham Ilahi yang saya terima berlawanan dengan Al Quran dan Sunnah, saya akan menyingkirkannya sama sekali bak membuang dahak dari tenggorokan saya.’ Jika Hadhrat Masih Mau’ud as sendiri menjadikan wahyu beliau sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah sampai berkata demikian, maka kita pun harus menjadikan mimpi kita sesuai dengan perintah-perintah beliau as.

Ketika sudah jelas dari ajaran Rasulullah saw bahwa berpuasa terus-menerus dalam periode lama tidaklah diperbolehkan, karena itu anggaplah mimpi engkau yang menyimpang dengan hukum tersebut sebagai berasal dari setan. Jika mimpi engkau dari Tuhan, tentu itu akan membenarkan/sesuai dengan sabda Nabi saw bukan bertentangan dengannya. Jadi, mimpi apapun yang bertentangan dengan Al Quran dan Sunnah bukanlah mimpi yang benar. Ia mardud (tertolak). Sebab, mustahil mimpi yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai benar. Dan, juga tidak mungkin mimpi yang bertentangan dengan Hadits Shahih sebagai benar.

Dasar memutuskan sesuatu dengan rujukan mimpi seseorang – meski isi mimpi itu baik sekalipun – dan menempatkan diri dalam kesulitan dan persoalan yang tidak perlu adalah salah dan tidak bertakwa. Bukan hanya itu, bahkan di banyak kesempatan bisa menjadi dosa. Tentu saja mereka yang dikirim oleh Allah (utusan-Nya) bukan seperti orang-orang biasa. Perlakuan Allah kepada mereka berbeda. Dalam benak seseorang dari kalian terdapat pemikiran Hadhrat Masih Mau’ud as juga berpuasa selama 6 bulan berturut-turut. Harus jelas bagi mereka bahwa hal pertama Allah Ta’ala telah menentukan akan menjadikan beliau sebagai Nabi. Hal kedua, Hadhrat Masih Mau’ud as sendiri menjelaskan bahwa beliau tidak berpuasa terus-menerus atas kemauan beliau sendiri. Beliau melakukan hal demikian setelah menerima Wahyu Ilahi dan disuruh untuk berpuasa seperti yang beliau lakukan. Saya sampaikan nasehat beliau as pada kita. Beliau as bersabda, “Saya suatu kali bermimpi melihat seseorang dari kalangan Wali Allah, penampakannya sangat elok, dia berkata, ‘Merupakan sunnah Ahli Bait Risalah (pengemban kerasulan) untuk berpuasa beberapa hari guna meraih cahaya-cahaya samawi.’ Dia menunjuk pada sunnah (kebiasaan) keluarga Nubuwwat yang ini. Saya mengalami pengalaman ruhani yang menakjubkan selama masa berpuasa tersebut berupa kasyaf-kasyaf halus yang dibukakan kepada saya.

Ringkasnya, keajaiban-keajaiban yang ditampakkan oleh saya pada periode puasa tersebut, berupa kasyaf-kasyaf yang berkali lipat banyaknya. Namun, saya tidak akan merekomendasikan siapapun untuk mengikutinya. Saya melakukannya juga bukan atas dasar kehendak sendiri. Ketahuilah! Saya menanggung kesusahan jasadi ini hingga masa 8 atau 9 bulan – sampai lapar dan haus menyiksa- setelah disuruh oleh Allah melalui kasyaf yang jelas, dan tidak kuulangi lagi hal itu kecuali sedikit dari itu.” Beberapa orang menuduh Hadhrat Masih Mau’ud as dengan membuat sebuah Jemaat telah menimbulkan kerusakan, beliau menjadikan firkah yang ke-73, bukannya mengurangi perpecahan malah menambah. Perkataan demikian biasa terjadi pada saat-saat kedatangan para Nabi dan Rasul Allah. Demikianlah tuduhan terhadap setiap Nabi di zaman dulu oleh para penentangnya. Kaum Mekah dulunya menuduh bahwa Rasulullah saw telah mengoyak hubungan keluarga dan persaudaraan serta menimbulkan permusuhan walaupun sebenarnya ada begitu banyak kekacauan (pertengkaran dan permusuhan) yang sebelum beliau telah terjadi di kalangan bangsa beliau. Kerusakan pun telah tersebar di kalangan mereka pada masa sebelumnya [sebelum Nabi]. Situasi kaum Muslim pun sama saat ini ketika kerusakan sebelumnya telah ada pada mereka.

Allah mengirimkan Nabi-Nya untuk menghapus kekacauan dan fitnah, supaya orang-orang bersatu pada satu tangan dan orang-orang yang menerima Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul ini akan berada dalam kedamaian, menjalin persatuan dan menjauhkan mereka dari fitnah dan kekacauan. Sedangkan orang-orang selainnya terwarnai dalam fasaad dan fitnah. Tidak peduli seberapa besar mereka menentang dan memusuhi kita dan bersekutu melawan kita, mereka akan terpecah-belah, hati mereka tidak menyatu. Mereka tidak akan dapat bersatu, selamanya akan ada kebencian diantara mereka. Selama mereka tidak mengimani sang Imam, demikianlah keadaan mereka. Sama saja, apakah itu mereka yang menentang kita itu menghitung kita sebagai Muslim ataukah tidak. Berdasarkan definisi yang diberikan Allah Ta’ala dan juga Rasulullah saw, kita adalah Muslim yang sesungguhnya, dan tidak ada yang dapat merenggut hal ini dari kita.

Hadhrat Mushlih Mau’ud as mengatakan bahwa seseorang mengatakan kepada beliau suatu peristiwa ada seseorang dari aliran Ahli Hadits menunaikan sholat dengan orang-orang dari aliran Hanafi di Masjid mereka/Masjid Hanafi. Ketika orang dari Madzhab Ahli Hadits tersebut mengangkat jari telunjuknya ketika akhir tasyahud, orang-orang dari aliran Hanafi tersebut membatalkan sholat mereka dan mendatanginya beramai-ramai dan mulai meneriakinya ‘Anak Haram!’. Mereka bahkan tidak mempertimbangkan bahwa mereka sebenarnya tengah melaksanakan sholat. Mereka membatalkan shalat untuk menyakiti orang Ahli Hadits tersebut…. Jika demikianlah kekacauan yang sebelum Hadhrat Masih Mau’ud as datang maka yang dilakukan beliau lakukan adalah ishlaah (pembaruan, perbaikan) dan menghapus kerusakan. Siapa yang menciptakan kekacauan? Seseorang yang melukai orang lain ataukah seorang dokter yang menerima orang sakit dan membedah luka tersebut? Ada dua jenis orang yang melukai, pertama orang yang memukul orang lain dan melukainya, dan kedua dokter, pelaku perawatan guna pengobatan. Siapa yang dapat mengatakan seorang dokter itu kejam jika ia meresepkan pil kina [pada masa itu sangat pahit] kepada seseorang yang menderita demam (malaria).

Seseorang bertanya kepada Hadhrat Masih Mau’ud as tentang menciptakan kekacauan dan perpecahan, bahwa dengan diutusnya beliau, telah bertambah lagi firqah/kelompok dan kerusakan bertambah; beliau menjawab: “Jika kita ingin melindungi susu segar dari menjadi mengental/membeku/menjadi dadih, maka kita harus menjauhkannya dari yoghurt (susu yang diasamkan). Karena sekali susu tersebut terkena yoghurt, maka susu tersebut akan mengental. Inilah mengapa sangat penting agar Jemaat yang telah dikirimkan oleh Allah Ta’ala terpisah dari kaum lain yang telah rusak. Orang sehat dapat tertular penyakit dari orang sakit jika mereka disatukan. Merupakan cara Tuhan bahwa Jemaat yang dikirim oleh-Nya tetap terpisah dari mereka yang sakit secara ruhani. Inilah mengapa perintahnya adalah agar terdapat pengaturan yang terpisah untuk pemakaman, pernikahan, shalat dan lain-lain.

Hadhrat Mushlih Mau’ud as tengah memberikan nasikat kepada para wanita pada waktu itu, jadi beliau mengatakan nasihat beliau kepada para wanita yang terkadang mengkritik dan menimbulkan ketidaksetujuan bahwa seperti layaknya hidup orang yang sehat dapat berada dalam bahaya ketika sudah berinteraksi dengan orang yang mempunyai sebuah penyakit, maka harus diingat, kondisi demikian terjadi saat sebuah hubungan ditempakan dengan non-Ahmadi.

Seringkali para wanita berkata bahwa seseorang tidak dapat meninggalkan saudara lelaki atau saudara perempuannya berkaitan dengan hal ini. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan dalam peristiwa musibah seperti gempa bumi atau kebakaran, seorang saudara perempuan akan menyelamatkan dirinya tanpa mempedulikan saudara laki-lakinya. Jadi kenapa tidak berpendirian sama dalam hal agama? Ini karena kurangnya wawasan dan pemahaman mendalam dalam iman sehingga seseorang dihanyutkan oleh perasaan nyaman.

Jika malaikat maut mengunjungi seorang wanita dan berkata, “Saya datang diperintahkan untuk mengambil nyawa saudara laki-laki engkau atau anggota keluarga engkau yang lain namun saya akan mengambil nyawa engkau”, maka wanita mana pun tidak ada yang akan menerima hal tersebut. Allah berfirman: يَا أَيهَُّا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا “Hai orang orang yang beriman, selamatkanlah dirimu dan keluargamu dari api neraka..” (66:1). Jika seorang wanita pengikut Hadhrat Masih Mau’ud as menikahi seorang non-Ahmadi, maka wanita tersebut akan menjauh dari
Jemaat karena faktor suaminya atau akan wafat dalam ketidaknyamanan. Atau, ia mendapatkan kekerasan setelah terpisah dari keluarganya untuk mengikuti suaminya. Keluarga suaminya, karena kefanatikan mereka, akan memperlakukannya dengan sikap tak baik. Inilah yang terjadi pada masa kini yang dialami wanita Ahmadi yang menikah dengan non Ahmadi. Inilah makna lain dari naar (api neraka). Dapatkah seorang wanita dengan kedua tangannya sendiri melemparkan anak perempuannya sendiri ke dalam api? Namun, ada juga orangtua yang melemparkan anak gadisnya ke dalam api hanya demi hubungan-hubungan yang biasa saja. Jauhilah hal ini.

 Kita dituduh menciptakan perpecahan dan membuat kelompok baru karena amal perbuatan dimana para Ahmadi tidak menikahi non-Ahmadi. Ini bukanlah menciptakan kekacauan, namun hal itu adalah bentuk perlindungan diri dan mengutamakan iman di atas perkara-perkara duniawi. Tidak ada yang dapat memahaminya kecuali yang paham perihal ruh mengutamakan agama diatas duniawi. Hal pokok ini juga tepat bagi para pemuda Ahmadi yang membuat-buat alas an guna menikahi wanita non Ahmadi, bukannya menikahi wanita Ahmadi. Para pemuda juga harus mengerti, jika mereka memanggil diri mereka/mengaku diri Ahmadi dan menggolongkan diri sebagai benar-benar Ahmadi, maka mereka harus tidak mengejar keinginan mereka sendiri dan sebaliknya harus menikahi wanita-wanita Ahmadi dan memberikan perhatian utama kepada iman bukan perkara-perkara duniawi. Mereka harus memikirkan generasi keturunan selanjutnya. Generasi selanjutnya tidak hanya rusak oleh para gadis yang menikah dengan pihak luar Jemaat, namun juga terjadi ketika para pemuda Ahmadi menikah dengan mereka yang di luar Jemaat.

Setiap Ahmadi harus memahami bahwa seseorang tidak menjadi Ahmadi hanya karena tekanan sosial atau karena hubungan. Seseorang harus menjadi Ahmadi memang karena kesadaran iman. Jika para pemuda Ahmadi tetap menikahi gadis-gadis di luar Ahmadi, bagaimana dengan para gadis Ahmadi? Para pemuda/laki-laki Ahmadi harus merenungkan hal ini. Jika perhatian tidak diberikan untuk hal ini, diketahui bahwa hal ini tampak bertambah pada hari-hari ini, jika hal itu (pernikahan dengan non Ahmadi) bertambah di masa mendatang maka Ahmadiyah bisa tidak ada lagi di dalam keluarga-keluarga tersebut, kecuali karena rahmat Allah secara khas.

Saya kerap kali mengatakan kepada para pemuda yang berniat menikah dengan luar Jemaat, jika mereka telah menikah di luar Jemaat secara terpaksa karena beberapa alasan tertentu, maka mereka harus menunaikan kewajiban-kewajiban terhadap para wanita Ahmadi, dalam arti berusaha agar membuat seorang pemuda [non Ahmadi] menjadi seorang Ahmadi, menjadikan si pemuda tersebut sebagai Ahmadi yang tulus ikhlas, dan kemudian mengatur pernikahan pemuda tersebut dengan seorang gadis Ahmadi. Hal ini akan memberikan mereka
kesempatan untuk bertabligh dan juga menarik perhatian mereka akan pentingnya menikah dengan gadis-gadis/wanita Ahmadi.

Persoalan dalam pernikahan para gadis Ahmadi bukan hanya pada masa kini, sejak awal Jemaat pun sudah ada. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra pada awal Khilafat beliau tahun 1914 bersabda, “Saya hendak menyampaikan pada hari ini tentang masalah penting yaitu berkaitan dengan pernikahan yang terjadi antara para Ahmadi dan non-Ahmadi.

Dalam soal ini, permasalahan yang harus kita perhatikan secara khas ialah tentang الكفاءة ‘al-kafaa-ah’ [atau dalam kata lain kufu’, keseimbangan, yaitu keseimbangan keyakinan atau pemahaman tentang Islam dan Jemaat] antara pasangan suami-istri. Berbagai permasalahan dan kesulitan yang para anggota Jemaat hadapi seputar pernikahan telah saya ketahui sebelumnya, namun [setelah Khilafat] saya menjadi lebih mengerti dan paham dari surat-surat yang dikirimkan kepada saya dalam 9 bulan ini betapa banyak kesulitan dan masalah yang dialami oleh orang orang tersebut. (pengertian 9 bulan ialah sejak awal Khilafat hingga di Jalsah itu waktu pidato beliau tersebut)

Hadhrat Masih Mau’ud as telah merekomendasikan untuk membuat daftar nama para pemuda dan pemudi Ahmadi yang sudah mempunyai usia cukup untuk menikah. Rekomendasi itu atas usulan dari seseorang yang mengatakan, “Hudhur, kita menghadapi kesulitan yang begitu besar dalam pernikahan anggota kita. Sementara Hudhur menasihatkan supaya tidak membuat hubungan (pernikahan) dengan luar Jemaat. Orang orang Jemaat begitu banyak, beraneka ragam dan tersebar di berbagai tempat, sehingga apa yang harus kita lakukan?! Karena itu, saya menyarankan pembuatan daftar yang terdiri nama-nama para Ahmadi muda laki-laki maupun perempuan yang belum menikah agar mempermudah pernikahan mereka. Daftar nama itu dapat dijadikan acuan setiap kali Hudhur dimintai nasihat tentang usulan pernikahan. Tidak ada seorang pun di dalam Jemaat yang tidak menuruti nasihat dan saran Hudhur perihal calon perjodohan.” Ada sebagian orang yang mengajukan suatu usulan yang dalam pengajuannya itu terdapat tujuan pribadi dan akibatnya ia menghadapi beragam ujian pada akhirnya.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan bahwa beberapa orang membuat saran-saran berdasarkan kepentingan pribadi mereka, dan selalu berakhir dalam masalah gara-gara hal ini. Ternyata niat dari orang yang mengajukan saran-saran atau usulan-usulan ini juga tidak bagus. Pada waktu yang kira-kira bersamaan, seorang Ahmadi yang sangat tulus-ikhlas mendekati Hadhrat Masih Mau’ud as untuk meminta usulan tentang pernikahan/perjodohan, dan Hadhrat Masih Mau’ud as merujuknya kepada orang yang telah menyarankan untuk membuat daftar nama tersebut bahwa ia punya anak perempuan.

Namun, orang yang mempunyai anak perempuan dan telah mengusulkan soal daftar nama tersebut membuat-buat alasan yang sangat tidak masuk akal dan bahkan menikahkan anak perempuannya kepada seorang non-Ahmadi. Ketika Hadhrat Masih Mau’ud as mengetahui hal ini, beliau berkata bahwa beliau tidak akan terlibat atau mencampuri usulan-usulan pernikahan lagi. Jika kejadian ini tidak terjadi, Jemaat tidak akan mengalami persoalan terkait hal ini.

Satu penolakan atas apa yang dikatakan oleh seorang Nabi Allah dapat menjadi sumber ujian yang terus-menerus bagi sebuah kaum. Sebagian besar orang Jemaat yang menikahkan anak-anak perempuannya dengan luar Ahmadiyah segera menyadari kesalahan mereka setelah beberapa waktu kemudian tahu beberapa akibatnya. Orang-orang tersebut (baik perempuan yang menikah dengan ghair atau ayahnya) masih menulis surat kepada saya yang mengakui bahwa mereka menderita karena keputusan-keputusan yang mereka ambil.

Contohnya mereka mengatakan, “Putri kami telah menjauh dari agama.” Atau “Putri kami telah dilarang oleh suami mereka atau mertua mereka untuk bertemu dengan keluarga mereka sendiri.” Ada juga orang tua-orang tua yang dikarenakan tendensi-tendensi egoistis (kecenderungan keangkuhan, sombong) tidak menyetujui usulan pernikahan yang bagus sementara pihak Ahmadi yang datang kepada mereka merupakan Ahmadi yang mukhlis dan sang pemuda Ahmadi dan pemudi Ahmadinya sudah saling merasa sesuai/suka. Ada kalanya terdapat orang-orang yang tidak menerima saran-saran saya untuk caloncalon mempelai. Jika ada orang yang tidak menerima saran-saran Hadhrat Masih Mau’ud as (faktanya, ada pada masa beliau as) dalam masalah perjodohan, jika dibandingkan, apalah artinya saya jika ada yang tidak menerima usulan saya. Namun, orang orang seperti ini memang
biasanya berakhir di dalam situasi-situasi yang serius.

Ada satu kasus di Jerman, orang tua seorang gadis tidak menyetujui anak gadisnya menikah dengan pilihannya sendiri. Orangtua tersebut membunuh anak gadis dan akhirnya menjalani hari-harinya di penjara.12F13 Para orang tua seharusnya tidak bersikap sombong dan bersikukuh (untuk menolak) jika pemuda dan pemudi Ahmadi yang telah saling ridha (suka dan sesuai) ingin menikah. Tetapi, satu lagi perkara yang harus jelas berkaitan dengan pernikahan bahwa dalam Islam, pilihan dan kecocokan anak gadis terhadap orang yang ia ingin menikah adalah penting. Secara jelas, Rasulullah saw memberikan anak-anak gadis hak untuk memilih. Namun, Islam juga melarang pernikahan tanpa izin Wali Nikahnya. Pernikahan tanpa izin Wali adalah tidak dibenarkan. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra bersabda, “Allah Ta’ala telah mengirimkan Hadhrat Masih Mau’ud as dan memang beliau benar-benar utusan dari-Nya.

Beliau as telah menjelaskan pada kita bahwa Syariah Islam tidak memperbolehkan pernikahan tanpa adanya izin seorang wali, selain dari pengecualian yang secara sah telah ditetapkan Syariah juga. Akad nikah kedua mempelai tanpa wali adalah batil/salah/tidak sah. Tugas kita untuk menjelaskan perkara-perkara ini kepada orang orang. Dan jika mereka tidak menerimanya, maka kita harus memutuskan tali hubungan dengan mereka.” Sebuah peristiwa terjadi pada masa hidup Hadhrat Masih Mau’ud as. Seorang gadis ingin dinikahkah kepada seorang laki-laki yang tidak disetujui oleh ayahnya. Si gadis dan laki-laki tersebut kemudian pergi ke Nanggal, sebuah desa dekat Qadian, untuk menikah dan pernikahannya diwalikan kepada seorang Maulwi/Kyai. Mereka umumkan bahwa mereka sudah menikah. Pasangan tersebut kemudian kembali ke Qadian namun Hadhrat Masih Mau’ud as mengusir mereka dari Qadian karena pernikahan mereka dilaksanakan berlawanan dengan Syariah.

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra berkata bahwa beliau juga pernah menemui sebuah situasi seorang ibu ingin anak laki-lakinya menikahi seorang gadis tanpa kehadiran seorang wali. Ibu tersebut merasa asalkan anak gadis tersebut bahagia, kenapa persetujuan wali masih diharuskan? Hadhrat Mushlih Mau’ud ra kemudian mengetengahkan kepada Ibu tersebut: “Baiklah! Engkau mengatakan demikian karena tahu anak laki-laki engkau telah menyukai seorang gadis dan sang gadis pun telah merasa cocok sehingga berpikiran izin seorang wali tidak perlu. Namun, bukankah engkau juga mempunyai anak perempuan? Bagaimana jika salah seorang dari anak gadis engkau sendiri, atau cucu perempuan dari anak gadis engkau pergi bersama seseorang dari luar Jemaat?!

saya telah katakan, para orang tua seharusnya tidak bersikeras tanpa kebenaran untuk melarang pernikahan anak-anak gadisnya karena kebanggaan semu dan sebab yang tidak masuk di akal sehat, sampai-sampai berlaku aniaya, misalnya hingga sampai membunuh. Begitupun Islam juga tidak mengizinkan para anak gadis pergi ke luar rumah untuk melangsungkan pernikahannya sendiri (tanpa izin wali) di pengadilan atau ke seorang Maulwi (ulama). Jika mereka menghadapi permasalahan tertentu, mereka dapat menulis surat ke Khalifah di masa tersebut dan beliau akan mengambil keputusan sesuai dengan situasi yang ada. Selama prinsip-prinsip untuk mendahulukan iman dan agama diatas perkara-perkara duniawi menjadi pandangan mereka dan terus dilaksanakan maka Allah akan terus memuliakan mereka dengan karunia-karunia-Nya. Di dalam salah satu khotbahnya, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengatakan bahwa guna dzikr Ilahi, agar dapat menanamkan kecintaan kepada Allah Ta’ala dan menjalin hubungan dengan-Nya, penting untuk merenungkan sifat-sifat Allah senantiasa dan dengan melalui sifat-sifat-Nya itu terjalin erat hubungan dengan-Nya.

Dengan cara itu seseorang akan memahami secara benar hakikat kecintaan kepada Allah. Hukum alam yang biasa adalah, bahkan untuk menciptakan hubungan dan cinta bersifat duniawi, seseorang perlu dekat dengan yang dicintainya, atau sekurang-kurangnya memiliki foto dari sang tercinta untuk menyatakan kekagumannya. Untuk kecintaan adalah perlu bagi pecinta agar yang dicintainya itu ada atau sekurang-kurangnya ada gambar/fotonya.

Sebagai permisalan, Islam mengatakan bahwa seseorang dapat saja melihat orang yang ingin ia nikahi sebelum mengadakan pernikahan dan ketika ini sulit untuk menemui satu sama lain, maka foto dapat dikirimkan. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra ingat bahwa ketika tiba saatnya beliau dimintakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as kepada Doktor Rasyiduddin. Dan setelah itu, Hadhrat Masih Mau’ud as memberikannya pada beliau ra. Beliau merasa menyukai calon mempelai beliau, maka pernikahan kemudian dilangsungkan. Beliau berkata: “Bagaimana seseorang dapat merasakan cinta tanpa melihat terlebih dahulu!” Bahkan, permisalannya ialah seperti Allah tampak di mata kamu namun kau tutup itu dengan kedua tanganmu. Sedangkan berkenaan dengan kecintaan kepada Allah dan mutu penciptaan kecintaan terhadap-Nya, apakah mungkin jika umpamanya Allah datang di depanmu namun kau menutup kedua matamu dan berharap dapat mencintai Allah. Mana bisa begitu?! Di dalam salah satu untaian syair Urdu beliau, Hadhrat Masih Mau’ud as mengatakan,

[terjemahan bahasa Arabnya sebagai berikut] “إن لم تتسنّ رؤية الحبيب فلا بد من الكلام معه على الأقل، فلير الإنسان آثار حُسن الحبيب وجماله”. ‘Jika seseorang tidak dapat melihat Sang Kekasih, sekurang-kurangnya ia dapat mendengarkan percakapan dengan-Nya! Maka hendaknya juga menyaksikan tanda-tanda keindahan dan keelokan Sang Tercinta.’

Ini artinya adalah jika Sang Tercinta tidak dapat dipandang, setidaknya seseorang dapat mendengar suara-Nya, mengalami beberapa tanda dari keindahan-Nya. Ini berkaitan dengan gambaran. Dan apa yang merupakan ilustrasi dari Allah? Dia adalah ar-Rabb, ar-Rahman (Maha Pengasih), ar-Rahim (Maha Penyayang), Maliki Yaumid Deen (Yang Empunya Hari Pembalasan), as-Sattar (Dialah yang Menutupi Kesalahan), al-Quddus (Yang Maha Suci), al-Mu-min (Pemberi Keamanan), al-Muhaimin (Maha Pelindung), as-Salam (Sumber Kedamaian), al-Jabbar (Yang Mengatasi Masalah), dan Dia adalah al-Qahhar (Yang Maha Tinggi) dan begitu banyak lagi sifat-sifat-Nya.

Ketika seseorang secara berulang-ulang memikirkan dan merenungkan sifat-sifat ini beserta artinya, maka salah satu dari sifat sifat ini akan menjadi pendengaran Tuhan, sifat lainnya akan penjadi pandangan-Nya, sifat yang lain akan menjadi tangan-Nya, dan sifat yang lain menjadi tubuh-Nya, dan dengan demikian seseorang dapat
mempunyai gambaran menyeluruh tentang Tuhan.

Dengan menyimpan sifat-sifat Ilahi ini di dalam pikiran akan memberikan kecintaan kepada Tuhan bagi seseorang.
Orang beriman yang hakiki wajib menampakan ghirat dan semangat bagi agama. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menjelaskan hal ini, “Saya mendengar Hadhrat Masih Mau’ud as mengucapkannya dengan sering dan ratusan sahabat beliau juga mendengar beliau bersabda, ‘Karena sifat alami yang rentan maka beberapa orang tidak dapat menggunakan jalan dan cara yang benar meskipun niat dan tujuan mereka baik.’ Hadhrat Masih Mau’ud as dahulu pernah berkata bahwa seorang pria meminta temannya untuk menemukan pasangan yang cocok bagi anak gadisnya.

Temannya tersebut mencarikan dan menemukan seorang pemuda calon pasangan dan berkata bahwa si pemuda sangat pantas dan layak sebagai pasangan bagi anak gadisnya. Ketika sang Ayah menanyakan informasi lebih lanjut, si teman menjawab bahwa si pemuda mempunyai hati yang baik. Sang Ayah bertanya lebih lanjut namun sang teman menjawab, “Bukankah sudah kubilang bahwa pemuda itu hatinya baik?” sang Ayah menjawab bahwa ia
tidak dapat meneruskan perjodohan ini hanya berdasarkan si pemuda mempunyai hati yang baik [tanpa sifat mulia lainnya yaitu keberanian, kehormatan dsb]. Jika misalnya seseorang menculik anak gadisnya, maka si pemuda tersebut mungkin tidak akan melakukan apa-apa dan hanya menjadi orang baik dengan tidak memiliki rasa hormat pada keimanan.

Sebagian orang tidak mempunyai ghirah keagamaan dan tidak ada semangat untuk agama. Artinya, dalam hal-hal agama mereka berlaku ‘baik’ sampai-sampai dalam diri mereka tidak ada ghirah (rasa hormat dan harga diri) keagamaan dan tidak ada semangat untuk agama. Orang-orang yang beriman memang mempunyai hati yang baik, namun bersamaan dengan hati yang baik, mereka juga harus menjunjung rasa kehormatan. Namun, orang dengan hati yang baik seperti itu berbahaya untuk diri mereka sendiri, bahkan membahayakan bagi Jemaat. Karena itu, mereka juga harus menjunjung rasa kehormatan.

Terkadang pengkritik mengkritik Nizham Jemaat, sedangkan ‘orang-orang baik’ itu hanya duduk-duduk saja diam di pertemuan itu. Ini hal yang salah di tiap keadaan.Jika hanya ada kebaikan hati saja, maka hal ini bukanlah segalanya. Sebagai contoh, keikutsertaan dalam perkumpulan-perkumpulan seperti itu dapat berarti menghilangkan rasa kehormatan seseorang. Minimal harus ada rasa kehormatan yang cukup untuk meninggalkan perkumpulan-perkumpulan seperti itu. Dan jika kritik-kritik seperti itu menonjol secara teratur, maka pengurus Jemaat harus diberitahu dan kemudian harus menginformasikan hal ini kepada Khalifah-e-Waqt agar langkah-langkah yang diperlukan dapat diambil. Sekarang saya hendak menceritakan peristiwa seorang Ulama non Ahmadi yang berupaya memanaskan api kedengkian dan kebencian di hati orang-orang untuk menentang Hadhrat Masih Mau’ud as. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra berkata bahwa orang-orang dulu biasa menyebut Hadhrat Masih Mau’ud as sebagai seorang Tukang Sihir. Beliau ingat seorang teman beliau bilang kepada beliau bahwa ia mendengar seorang Maulwi berceramah mendesak orang-orang agar tidak pernah membaca buku-buku Ahmadi dan supaya jangan pernah mengunjungi Qadian.

Sang maulwi meneruskan dengan menceritakan sebuah cerita karangan (fiksi/buatan) sebagai berikut: “Saya pernah ke Qadian dengan orang yang kaya. Kami tinggal di Guest House (rumah untuk tamu) dan mengungkapkan keinginan kami untuk bertemu dengan Tn. Mirza. Kamudian Maulwi Nuruddin datang dan berbincang yang menyenangkan dengan kami. Kami ditawari halwa (manisan) untuk dimakan. Dan inilah waktunya saya mengerti bahwa halwa tersebut sudah diberikan semacam sihir. Teman saya memakan halwa tersebut, namun saya yang mengetahui apa yang terjadi tidak memakannya dan menyelinap pergi dengan berbagai alasan. Tn. Maulwi Nuruddin tidak menyadari saya tidak memakan halwa tersebut. Tidak lama kemudian, teman saya yang telah memakan halwa tersebut mengatakan sangat tertarik dengan apa yang sudah didengarnya dan ingin berbaiat.

Namun karena saya tidak memakannya, hal itu tidak memberi berpengaruh bagi saya. Selanjutnya, Tn. Mirza dengan pathon-nya (kereta kuda beroda empat/dua, tinggi, terbuka dan berlampu) sudah siap. Ia duduk di dalamnya dengan Tn. Maulwi Nuruddin dan juga mengundang saya untuk duduk di dalamnya. Tn. Mirza kemudian mulai berbicara dengan saya dan saya hanya terus menganggukkan kepala. Dia pikir saya sudah makan halwanya dan akan menerimanya. Tuan Mirza mengatakan bahwa dia adalah Nabi, dan kemudian dia berkata, (Naudzubillah), bahwa dia lebih hebat dari Rasulullah saw dan juga mengatakan (Naudzubillah), bahwa dia adalah Tuhan. Ketika saya menyanggahnya, dia bertanya kepada Tn. Maulwi Nuruddin apakah ia tidak menawari saya makan halwa untuk dimakan. Dia berkata bahwa halwanya sudah ditawarkan namun sepertinya tidak ada pengaruhnya.”

Tetapi, terkadang Allah Ta’ala mengatur sedemikian rupa sehingga terjadi bahwa dusta dan kebohongan dari orang-orang ini bisa disingkap secara langsung dengan segera di tempat. Di dalam perkumpulan yang sama, seorang pengacara non-Ahmadi hadir di sana dan ia kebetulan pernah datang ke Qadian untuk menemui Hadhrat Khalifatul Masih I ra untuk sebuah perawatan/pengobatan. Dia sudah merasa sangat negatif terhadap para Maulwi dan berpikiran Maulwi-Maulwi tersebut pendusta. Namun sekarang (setelah mendengar cerita tersebut), dia beranggapan tidak ada pendusta yang lebih besar daripada mereka. Dia berkata, “Kalian semua tahu saya bukan seorang Ahmadi namun saya pernah ke Qadian untuk sebuah perawatan/pengobatan. Saya pernah di sana untuk beberapa waktu. Apapun yang dikatakan oleh Maulwi ini tidak benar. Boro-boro ada phaeton (kereta kuda yang tinggi), tonga (gerobak kuda sederhana) pun tidak ada di Qadian!.” Dan memang kebetulan bahwa di waktu Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menuliskan hal ini (yang mana adalah bertahun-tahun kemudian dari peristiwa tersebut), di Qadian memang masih belum ada gambaran tentang phaeton. Itu hal yang unik. Ajaibnya taqdir Ilahi, sampai masa beliau ra menceritakan itu pun masih belum ada kereta kuda di Qadian.
Hadhrat Mushlih Mau’ud ra berkata bahwa orang-orang masih berpikiran sihir dilakukan di Qadian ketika mereka melihat orang-orang yang menerima Ahmadiyah tetap teguh dan kukuh dalam iman mereka meskipun meghadapi penganiayaan yang berat. Orang-orang menghubungkan keteguhan hati tanpa rasa takut ini dengan sihir Selanjutnya dua sholat jenazah dilakukan. Sholat jenazah dengan hadirnya jenazah dilakukan untuk Nyonya Sakina Naheed yang wafat pada 3 April di usia 90 tahun.

Sedangkan sholat jenazah gaib (tanpa jenazah hadir di tempat) diumumkan adalah untuk Tn. Shaukat Ghani yang mengorbankan nyawanya pada tanggal 3 April. Ia adalah prajurit Pakistan dan sedang berada di daerah Gwador di Baluchistan untuk melakukan operasi militer. Ia mengorbankan nyawanya akibat tembakan teroris yang tiba-tiba. Ia berusia 21 tahun dan dikubur di Rabwah dengan upacara penghormatan militer. Ia adalah seorang Musi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *